Ritual membaca sebelum tidur yang bertahan dua tahun
Bukan karena saya disiplin. Justru karena saya malas. Membacakan buku ternyata satu-satunya cara supaya anak saya mau berhenti berlari dan masuk ke kamar tanpa drama.
Aturannya cuma tiga
- Dia yang pilih bukunya, walaupun itu buku yang sama untuk ke-empat puluh kali.
- Boleh menyela sebanyak yang dia mau.
- Kalau saya ketiduran duluan, tidak apa-apa.
Aturan ketiga itu penting. Awalnya saya merasa bersalah tiap kali ketiduran di tengah halaman. Lama-lama saya sadar, dia tidak sedang menilai kualitas saya sebagai pendongeng. Dia cuma senang ditemani.
Buku yang sama, berkali-kali
Ada satu buku bergambar tentang beruang kehilangan topi yang kami baca hampir setiap malam selama tiga bulan. Saya hafal sampai koma-komanya. Saya pernah diam-diam menyembunyikannya.
Dia menemukannya dalam dua menit.
Anak membaca ulang bukan karena tidak tahu akhirnya. Justru karena tahu — dan tahu itu rasanya aman.
Sekarang dia sudah bisa membaca beberapa kata sendiri, dan mulai membacakan untuk adiknya. Saya duduk di pintu, pura-pura sibuk melipat baju, sambil mendengarkan kalimat-kalimat yang dulu saya ucapkan sekarang keluar dari mulutnya.
Masih satu tema
Baca juga
Sebelum Pundak Kecil Itu Memeluk Dunia
Setiap harinya, menjadi seorang ibu terasa seperti maraton tanpa garis akhir. Rasa lelah, kurang tidur, dan tumpukan urusan…
Sore di taman tanpa gawai
Percobaan kecil: satu jam di taman, ponsel ditinggal di dalam tas, tidak ada foto sama sekali. Saya kira…