Kenapa saya berhenti bilang “kamu pintar”
Selama bertahun-tahun saya kira memuji anak itu selalu baik. Semakin sering, semakin percaya diri. Ternyata yang menentukan bukan seberapa sering, tapi apa yang kita puji.
Percobaan kecil di kelas saya
Saya coba di kelas dua. Setengah anak saya puji hasilnya: “Wah, kamu pintar sekali.” Setengahnya saya puji usahanya: “Kamu telaten banget ngerjain ini.”
Lalu saya tawarkan soal kedua — boleh pilih yang mudah atau yang lebih sulit. Hampir semua anak yang dipuji “pintar” memilih yang mudah. Hampir semua yang dipuji “telaten” memilih yang sulit.
Kalau anak percaya dirinya pintar, setiap soal sulit jadi ancaman terhadap identitasnya. Kalau dia percaya dirinya pekerja keras, soal sulit cuma pekerjaan berikutnya.
Yang saya ucapkan sekarang
- “Kamu nggak nyerah walau susah.” — untuk ketekunan.
- “Cara kamu nyoba tadi menarik.” — untuk strategi.
- “Kamu ngerjain ini lebih rapi dari kemarin.” — untuk kemajuan.
- “Makasih udah bantu tanpa diminta.” — untuk inisiatif.
Tiga kalimat pertama saya pakai di sekolah, keempatnya saya pakai di rumah. Butuh waktu lama untuk mengubah refleks, dan kadang saya masih keceplosan.
Tapi belakangan anak saya mulai bilang sendiri, “Aku belum bisa, tapi nanti aku coba lagi.” Kalimat itu saja sudah membayar semua kecanggungan saya belajar memuji ulang.
Masih satu tema
Baca juga
Untuk Ibu yang Sedang Lelah: Alasan Kenapa Gym Jadi Penyelamat Kewarasanku
Untukmu Ibu yang Sedang Lelah: Cerita dari Ibu 2 Anak Laki-Laki dan Alasan Kenapa Gym Jadi Penyelamat Kewarasanku…
Anak saya tantrum di kasir, dan saya belajar diam
Antrean panjang. Keranjang penuh. Dan anak saya, tiga tahun, tiba-tiba menjatuhkan badannya ke lantai supermarket karena saya tidak…
Surat untuk diriku yang baru jadi ibu
Hai, kamu yang sedang duduk di lantai kamar mandi jam tiga pagi sambil menangis tanpa tahu alasannya. Aku…