Langsung ke konten
Parenting

Anak saya tantrum di kasir, dan saya belajar diam

September 5, 2026 2 menit baca 0 komentar
Anak saya tantrum di kasir, dan saya belajar diam

Antrean panjang. Keranjang penuh. Dan anak saya, tiga tahun, tiba-tiba menjatuhkan badannya ke lantai supermarket karena saya tidak membelikan cokelat berbentuk dinosaurus.

Saya hafal betul rasa panas yang naik ke wajah waktu itu. Bukan karena marah pada anak saya, tapi karena sadar ada delapan pasang mata sedang menonton ujian yang tidak pernah saya minta.

Yang biasanya saya lakukan

  • Menjanjikan sesuatu supaya dia berhenti — “nanti Ibu beliin es krim, ya.”
  • Mengancam pelan-pelan dengan suara datar yang menakutkan.
  • Menggendong paksa sambil minta maaf ke semua orang di antrean.

Ketiganya berhasil menghentikan tangis. Tidak satu pun mengajari dia apa pun.

Yang saya coba hari itu

Saya jongkok. Tidak bicara. Tangan saya taruh di punggungnya, dan saya tunggu badai itu lewat seperti menunggu hujan di teras orang.

Butuh dua menit empat puluh detik — saya tahu karena saya menghitung untuk menenangkan diri sendiri. Setelah itu dia memanjat ke pangkuan saya, napasnya masih putus-putus, dan berkata, “Aku mau pulang.”

Anak yang sedang tantrum tidak sedang melawan kita. Dia sedang kalah oleh dirinya sendiri, dan butuh seseorang yang tidak ikut kalah.

Di mobil saya bilang satu kalimat saja: “Tadi kesel banget, ya, pengen cokelat tapi nggak boleh.” Dia mengangguk. Selesai. Tidak ada ceramah, tidak ada perjanjian, tidak ada hukuman.

Saya tidak selalu sesabar itu. Minggu lalu saya gagal total di parkiran dan berakhir menangis di dalam mobil. Tapi setidaknya sekarang saya tahu bedanya: menghentikan tangis itu cepat, menemani anak melewatinya itu lama — dan yang kedua yang dia ingat.

Bagikan:

Tinggalkan pesan

Cerita kamu selalu ditunggu — emailmu tidak akan ditampilkan.

Masih satu tema

Baca juga