Mengajar 28 anak dengan 28 kecepatan berbeda
Pertanyaan yang paling sering saya terima dari orang tua murid: “Bu, anak saya ketinggalan, ya?” Dan pertanyaan yang paling sulit saya jawab jujur: ketinggalan dari siapa?
Kelas bukan lomba lari
Di kelas saya ada anak yang sudah lancar membaca sejak awal semester, dan ada yang masih mengeja di bulan keenam. Keduanya normal. Yang tidak normal adalah kalau saya memaksa keduanya berada di halaman yang sama pada menit yang sama.
Tiga hal yang membantu
- Tugas berlapis. Satu topik, tiga tingkat kesulitan. Anak memilih sendiri — dan mereka jujur memilih yang sesuai.
- Lima menit berdua. Setiap hari saya duduk dengan satu anak saja. Dalam sebulan, semua kebagian.
- Catatan kemajuan, bukan peringkat. Yang dibandingkan adalah dia bulan lalu, bukan dia dengan teman sebangkunya.
Anak tidak tumbuh karena dibandingkan. Anak tumbuh karena merasa dilihat.
Bagian tersulitnya bukan tekniknya, tapi menahan panik — panik karena kurikulum berjalan, panik karena ada ujian, panik karena orang tua bertanya. Saya belum selalu berhasil. Tapi setiap kali saya berhasil menahan panik itu, hampir selalu ada anak yang mengejar sendiri tanpa saya seret.
Masih satu tema
Baca juga
Tujuh detik yang mengubah cara saya bertanya
Dulu saya kira guru yang baik adalah guru yang kelasnya selalu ramai. Ada pertanyaan, langsung ada yang mengacungkan…