Langsung ke konten
Dari Kelas

Tujuh detik yang mengubah cara saya bertanya

September 8, 2026 2 menit baca 0 komentar
Tujuh detik yang mengubah cara saya bertanya

Dulu saya kira guru yang baik adalah guru yang kelasnya selalu ramai. Ada pertanyaan, langsung ada yang mengacungkan tangan. Sunyi sedikit saja, saya buru-buru menjawab sendiri — takut anak-anak bosan, takut waktu habis.

Sampai suatu hari seorang pengawas duduk di belakang kelas saya dan mencatat sesuatu yang sederhana: berapa lama saya menunggu setelah bertanya. Jawabannya memalukan. Satu koma dua detik.

Diam itu bukan kegagalan

Minggu berikutnya saya mencoba menahan diri. Setelah bertanya, saya hitung dalam hati sampai tujuh. Rasanya panjang sekali. Rasanya seperti kelas sedang menilai saya. Tapi di detik kelima, tangan-tangan mulai naik — dan yang naik bukan cuma tangan tiga anak yang biasanya paling cepat.

Rani, yang biasanya menunduk kalau saya bertanya, hari itu menjawab. Jawabannya panjang, berbelit, dan benar. Ternyata dia bukan tidak tahu. Dia hanya butuh waktu lebih lama untuk menyusun kalimat, dan selama ini saya tidak pernah memberi waktu itu.

Anak yang lambat menjawab belum tentu lambat berpikir. Kadang dia hanya sedang berpikir lebih dalam daripada kita.

Ternyata berlaku juga di rumah

Yang tidak saya duga, kebiasaan ini pulang bersama saya. Waktu anak saya yang berumur empat tahun ditanya kenapa dia menangis, dulu saya langsung menebak: “Capek, ya?” “Laper, ya?” Sekarang saya tunggu.

Di detik keenam dia bilang, “Aku sedih mainanku patah.” Kalau saya tidak menunggu, saya akan membereskan masalah yang salah, dan dia akan belajar bahwa perasaannya boleh ditebak orang lain.

Tujuh detik itu murah sekali harganya. Tapi buat anak yang sedang belajar bahwa suaranya penting, tujuh detik bisa jadi segalanya.

Bagikan:

Tinggalkan pesan

Cerita kamu selalu ditunggu — emailmu tidak akan ditampilkan.

Masih satu tema

Baca juga