Langsung ke konten
Resep Keluarga

MPASI pertama: yang saya khawatirkan vs kenyataannya

August 6, 2026 1 menit baca 0 komentar
MPASI pertama: yang saya khawatirkan vs kenyataannya

Saya menyiapkan MPASI anak pertama seperti menyiapkan ujian nasional. Tiga buku, dua akun dokter anak, satu tabel jadwal yang saya laminating.

Yang saya khawatirkan

  • Tekstur salah, anak tersedak.
  • Alergi yang tidak ketahuan.
  • Gizi kurang kalau tidak lengkap tiap kali makan.
  • Berat badan tidak naik sesuai kurva.

Yang benar-benar terjadi

Dia menolak bubur yang saya masak tiga jam, lalu makan lahap potongan pisang yang saya sodorkan asal-asalan. Dia menyemburkan wortel ke wajah saya, dua minggu kemudian minta tambah wortel.

Anak belajar makan seperti belajar jalan: berantakan dulu, baru bisa. Tugas kita menyediakan, bukan memaksa.

Yang saya lakukan berbeda di anak kedua

  • Tidak lagi menimbang setiap hari — cukup ikut jadwal posyandu.
  • Makan bersama di meja yang sama, supaya dia melihat kami mengunyah.
  • Berhenti waktu dia memalingkan wajah, tanpa negosiasi.
  • Menyimpan tenaga untuk hal yang penting: menemani, bukan menyuapi sampai habis.

Anak kedua makannya jauh lebih santai. Bukan karena resep saya lebih bagus, tapi karena ibunya lebih tenang. Ternyata ketenangan itu bisa dicicipi anak.

Bagikan:

Tinggalkan pesan

Cerita kamu selalu ditunggu — emailmu tidak akan ditampilkan.

Masih satu tema

Baca juga