Yang Tinggal Saat Sulit
Ada masa di hidupku ketika aku salah memahami cinta.
Aku pikir cinta itu soal rasa. Soal deg-degan tiap ketemu, soal kangen yang manis, soal chemistry yang bikin dunia terasa milik berdua.
Tapi umur mengajarkan hal lain.
Perlahan, cinta berubah wajah. Ia bukan lagi tentang seberapa cepat jantung berdebar, tapi seberapa lama seseorang memilih untuk tinggal—bahkan ketika tak ada lagi yang istimewa dari hari itu.
Sekarang, cinta bagiku adalah pertanyaan-pertanyaan sederhana yang jawabannya tidak selalu mudah:
Bisakah kita tetap lembut saat sama-sama lelah?
Bisakah kita saling memahami saat sama-sama sibuk?
Bisakah kita tetap memilih satu sama lain saat hidup sedang tidak mudah?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak romantis.
Tidak bisa dijadikan caption.
Tidak cocok diucapkan di malam anniversary.
Tapi justru di situlah cinta diuji.
Bukan di bunga yang datang tiap tanggal.
Bukan di kata-kata manis yang dihafal.
Tapi di hari-hari biasa, ketika tak ada yang melihat,
ketika keduanya sama-sama capek,
dan tetap memilih untuk tinggal.
Karena ternyata, yang membuat hubungan bertahan bukan seberapa besar rasa itu di awal—
tapi seberapa mau kita merawatnya di tengah.
Bukan yang paling romantis,
tapi yang paling sabar.
Bukan yang paling sempurna,
tapi yang paling mau tinggal.
— untuk yang masih memilih untuk tinggal.